Harga Cabai di Palu Melonjak, Capai Rp110 ribu per Kilogram

OUTENTIK-Harga cabai di sejumlah pasar pantauan Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengalami lonjakan pada Senin (7/9), dengan harga cabai rawit hijau menembus Rp105 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp50 ribu per kilogram.

Berdasarkan laporan perkembangan harga rata-rata bahan pangan pokok masyarakat yang dipantau Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tengah, kenaikan juga terjadi pada sejumlah jenis cabai lainnya.

Harga cabai rawit merah naik dari Rp49.167 menjadi Rp95 ribu per kilogram, cabai merah keriting dari Rp37.500 menjadi Rp60 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah biasa meningkat dari Rp20 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.

Kepala Disperindag Provinsi Sulawesi Tengah Richard Arnaldo mengatakan kenaikan harga tersebut dipengaruhi berkurangnya pasokan cabai dari daerah penghasil akibat kondisi cuaca yang kering.

“Suplai dari daerah penghasil cabai berkurang dikarenakan kondisi cuaca, El Nino, kering. Sehingga banyaknya cabai itu terbatas dari daerah penghasil,” katanya, Senin.

Menurut Richard, keterbatasan pasokan semakin terasa karena sejumlah daerah penghasil cabai juga mempertahankan stok untuk memenuhi kebutuhan di wilayah masing-masing.

Sulawesi Selatan, kata dia, selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan cabai untuk Sulawesi Tengah. Namun, daerah tersebut saat ini cenderung mempertahankan stoknya.

“Daerah-daerah penghasil dari selatan itu mempertahankan stok mereka untuk daerah mereka sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Sulawesi Tengah memiliki sejumlah daerah penghasil cabai seperti Kabupaten Sigi dan kawasan Napu. Namun, produksi dari daerah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar sehingga sebagian kebutuhan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Selain Sulawesi Selatan, pasokan cabai juga dapat berasal dari Gorontalo untuk memenuhi kebutuhan pasar di Sulawesi Tengah.

“Kita akhirnya harus berebut untuk mendapatkan suplai cabai dan sebagainya,” kata Richard.

Ia menjelaskan kondisi tersebut semakin sulit karena cabai merupakan komoditas yang mudah rusak sehingga tidak dapat disimpan dalam jumlah besar dalam waktu lama.

“Cabai ini juga komoditas yang tidak bisa disimpan lama. Mudah rusak dan sebagainya. Jadi, tidak bisa juga kita menyimpan dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama,” ujarnya.

Di sisi lain, permintaan masyarakat terhadap cabai masih tetap tinggi, bahkan cenderung meningkat seiring adanya berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk perayaan Maulid.

Disperindag Sulteng saat ini berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta daerah penghasil untuk mencari kemungkinan adanya kelebihan stok yang dapat disalurkan ke Sulawesi Tengah melalui distributor.

Richard mengatakan apabila terdapat pasokan tambahan, distributor di Sulteng dapat bekerja sama melakukan intervensi pasar guna menambah ketersediaan cabai dan menekan kenaikan harga.

Selain itu, Disperindag menyiapkan pelaksanaan pasar murah di sejumlah titik pada September 2026.

“Mudah-mudahan di bulan September ini, dengan kondisi yang begini kami mencoba untuk mempersiapkan kegiatan pasar murah di beberapa titik,” katanya.

Penentuan lokasi pasar murah akan dikoordinasikan bersama pemerintah kabupaten/kota. Sebelumnya, Disperindag Sulteng juga telah menggelar pasar murah di sejumlah wilayah Kabupaten Donggala, termasuk Banawa dan kawasan Pantai Barat.

Selain intervensi pasar, Disperindag berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah yang menangani sektor pertanian untuk mencari langkah preventif dalam menjaga ketersediaan cabai di daerah.

Richard mengatakan pemantauan harga dan pasokan dilakukan setiap hari melalui sistem pemantauan harga pasar di sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Tengah.Ia menambahkan kenaikan harga juga terjadi pada komoditas tomat, meskipun komoditas tersebut tidak termasuk bahan pokok utama.

Sementara itu, untuk sejumlah bahan pokok utama seperti beras, gula dan minyak goreng, Disperindag memastikan kondisi stok masih mencukupi.

“Untuk bahan pokok seperti beras, minyak dan gula, alhamdulillah dalam kondisi normal dan stok cukup,” ujarnya.

Komentar