‎Mencari Jalan Pulang, Saat Hidup Berbelok‎‎‎

Oleh : Rg

Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat.‎‎

Sebagian memilih tinggal di sudut paling sunyi dalam diri seseorang. Ia tidak mengeluarkan darah, tetapi diam-diam mengubah arah hidup pemiliknya.‎‎

HS (bukan nama sebenarnya) mengaku masih mengingat jelas satu malam yang menurutnya menjadi titik balik kehidupannya. Bukan karena malam itu begitu indah, melainkan karena sejak malam itulah ia merasa jalannya berbelok.‎‎

“Saya begini sejak SMA,” ucap pria kelahiran Sulawesi Tengah itu membuka kisahnya.‎‎

Sebelum memasuki bangku SMA, hidupnya berjalan seperti kebanyakan remaja laki-laki. Ia menyukai perempuan dan pernah menjalin hubungan asmara.‎‎

“Waktu SD sampai SMP saya suka cewek. Ada juga pacar saya,” tuturnya.‎‎

Namun semua berubah ketika suatu malam ia berkumpul bersama teman-temannya. Saat itu mereka mengonsumsi minuman keras.

Di lokasi tersebut, menurut pengakuannya, juga ada seorang aparat. ‎‎HS mengaku minum hingga kehilangan kesadaran.

‎‎”Waktu itu saya sudah tidak sadar karena terlalu mabuk.”

‎‎Pagi harinya, ia terbangun dalam keadaan yang membuat hidupnya tidak lagi sama.‎‎”Saya lihat saya sudah berdarah,” ucapnya sambil mengingat masa lalu. ‎‎

Kalimat itu meluncur perlahan, seolah masih menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh. Ia mengaku mengalami trauma berkepanjangan. ‎‎

Selama beberapa tahun, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak mampu dijawab.‎‎

Yang membuatnya semakin sulit menerima kenyataan adalah ketika ia merasa mengetahui sosok yang telah melukainya. Anehnya, dalam perjalanan hidup yang sulit ia pahami sendiri, ia justru kemudian menjalin hubungan dengan orang tersebut.‎‎

“Saya tahu siapa yang buat saya begini. Anehnya saya kemudian pacaran sama orang itu,” terangnya. ‎‎‎

Bagi HS, perubahan itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang bergeser setelah peristiwa tersebut.‎‎Kini ia memiliki pasangan sesama jenis. Namun di balik hubungan itu, ada pergulatan yang terus berlangsung.‎

Ketika sedang sendiri, pertanyaan itu kerap muncul.‎‎”Biasa saya duduk sendiri, tiba-tiba muncul dalam hati, kapan saya bisa normal kembali?”‎‎

Ia mengatakan pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi. “Saya akan berubah, tapi saya tidak tahu kapan.”‎‎

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi HS, itu adalah harapan yang terus ia genggam, meski jalannya masih terasa panjang.‎‎‎

Ada bagian lain dari hidupnya yang menurutnya ikut membentuk perjalanan tersebut.‎‎

HS mengaku tumbuh tanpa merasakan kasih sayang seorang ayah secara utuh. Kekosongan itu, katanya, seolah terisi ketika memiliki pasangan laki-laki.‎‎

“Waktu kecil saya rasa tidak dapat kasih sayang ayah. Pas pacaran sama laki-laki, perhatian itu saya dapat. Bahkan sampai kebutuhan keuangan saya juga tertutupi.”

‎‎Perhatian yang dulu ia cari di rumah, perlahan ia temukan di tempat lain.‎‎

Namun perhatian itu ternyata belum mampu menghapus seluruh kegelisahan dalam dirinya.‎‎ “Saya dari lubuk hati tidak mau seperti ini.”

‎‎Ia mengaku masih menyimpan banyak cerita yang belum siap dibagikan.‎‎”Ada hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan. Yang saya alami itu terbilang parah.”‎‎

Ia memilih berhenti sampai di situ.‎ Tidak semua luka siap dibuka kepada orang lain.‎‎‎ Hidup, bagi HS, seperti perjalanan yang pernah salah mengambil persimpangan.‎‎

Ia tidak mengaku telah menemukan jalan pulang. Ia juga tidak mengatakan sudah selesai dengan pergulatan yang dialaminya.‎‎

Yang ia miliki hari ini hanyalah harapan.‎‎

Harapan bahwa suatu hari nanti ia dapat menemukan kembali ketenangan yang selama ini ia cari.‎‎

“Saya percaya suatu saat saya akan berubah. Saya cuma belum tahu kapan.”

‎‎Barangkali, setiap manusia memang memiliki perjalanan pulang yang berbeda-beda.‎‎Ada yang jalannya lurus.

‎‎Ada yang harus melewati tikungan tajam.‎‎

Ada pula yang tersesat cukup lama sebelum akhirnya menemukan arah.‎‎

Dan bagi HS, perjalanan mencari jalan pulang itu masih terus berlangsung.‎‎

Kisah HS bukanlah cerita yang mewakili semua orang dengan orientasi seksual sesama jenis. Namun, bagi dirinya, pengalaman traumatis yang ia alami meninggalkan pergulatan batin yang panjang.

Di tengah kehidupan yang dijalaninya saat ini, ia mengaku masih menyimpan harapan untuk menjalani hidup yang menurut keyakinan dan keinginannya lebih sesuai dengan jati diri yang ia dambakan.

Baginya, perjalanan itu bukan tentang perubahan yang instan, melainkan proses panjang untuk memulihkan luka, berdamai dengan masa lalu, dan mencari jalan pulang.

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *