Oleh : Mas RG
Bus Trans Palu sore itu bukan sekadar kendaraan umum. Ia menjelma urat nadi kota yang mengalirkan cerita dari satu sudut ke sudut lainnya, membawa tawa, lelah, dan pengalaman yang tak terlupakan bagi kami delapan orang yang memutuskan menjajal perjalanan dengan koridor 1-A menuju Pantoloan.
Rombongan kami terdiri dari Kailismi, Vio, Cemma, Rahmat, Akbar, Gery, Afik, dan saya sendiri. Awalnya, kami berkumpul di Koriru Coffee, Jalan Gajah Mada, Palu, sebuah titik temu yang sebenarnya kurang tepat untuk perjalanan ke arah Pantoloan. Namun dari situlah cerita dimulai.
Setelah cukup lama menunggu, bus koridor 2B dan 4A akhirnya datang dan membawa kami menuju Taman GOR Palu, titik transit menuju koridor 1-A. Sesampainya di sana, kami kembali menunggu bus tujuan Pantoloan.
Penantian kali ini terasa lebih panjang.
Lebih dari setengah jam kami harus menunggu di tengah area Taman GOR yang sedang direnovasi. Tanpa halte dan tempat duduk, kami bersama sejumlah penumpang lain hanya bisa duduk di trotoar.
Trotoar sore itu berubah menjadi ruang tunggu rakyat, tempat semua orang berbagi tujuan dalam diam.
“Lumayan lama menunggunya, tapi ini pengalaman pertama yang seru,” ujar Rahmat, sambil sesekali melihat arah datangnya bus.
Di sekitar kami, terlihat pula sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ikut menunggu. Belakangan diketahui, Pemerintah Kota Palu memang tengah mendorong ASN menggunakan Bus Trans Palu sebagai bagian dari efisiensi anggaran dan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi.

Akhirnya, bus yang ditunggu datang.Kesan pertama langsung terasa begitu kami melangkah masuk. Kabin yang bersih, kursi yang tertata rapi, dan pendingin udara yang sejuk membuat perjalanan terasa nyaman.
Dengan tarif hanya Rp5.000 untuk penggunaan selama 1×24 jam di seluruh koridor, layanan ini menjadi pilihan yang cukup membantu masyarakat.
Namun di luar dugaan, bus sore itu cukup ramai.
Kami yang semula mengira perjalanan akan lengang justru harus berdiri karena kursi telah terisi oleh berbagai penumpang, mulai dari ASN, pedagang, hingga pelajar.
Kami pun memilih memprioritaskan perempuan, lansia, dan anak sekolah untuk duduk.
“Saya kira busnya sepi, ternyata ramai sekali. Tapi justru di situlah serunya,” kata Vio sambil tersenyum.
Candaan pun mulai memenuhi ruang kabin. Salah satu teman, Afik berseloroh seperti kondektur, berteriak, “Pantoloan… Pantoloan…” yang langsung mengundang tawa penumpang lain. (Oh ia, Afik ini masih pakai baju dinas. Dia bekerja di salah satu dinas Provinsi).
Bus itu seakan menjadi panggung kecil, tempat orang-orang asing berbagi tawa dalam perjalanan yang sama.
Sepanjang perjalanan menuju arah Pantoloan, bus wajib berhenti di setiap halte. Kaki mulai terasa pegal karena berdiri cukup lama, namun suasana hangat di dalam bus membuat rasa lelah sedikit terlupakan.
Saat melintasi wilayah Kelurahan Tondo, salah satu teman kami, Gery akhirnya ikut bergabung hingga lengkaplah perjalanan delapan orang dalam satu rombongan.
Awalnya kami berencana turun di Pantoloan lalu kembali ke pusat kota. Namun rasa lapar mengubah arah perjalanan.
Kami memutuskan turun di Terminal Tawaeli, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Palu.
Beruntung, seorang kenalan teman kami yang sedang berada di halte menunjukkan lokasi makan yang terkenal enak, yakni Nasi Kuning Tante Pia, tepat di depan lorong Puskesmas Tawaeli.
“Tutup sate kita makan nasi kuning saja,” ujar Kailism. Benar saja, sepiring nasi kuning hangat di warung itu terasa seperti pelipur lapar setelah perjalanan panjang.

Setelah kenyang, kami kembali ke halte Tawaeli untuk menunggu bus arah Kota Palu.
Berbeda dari perjalanan sebelumnya, bus kali ini justru sangat sepi.Hanya kami berdelapan yang berada di dalam kabin.
Momen itu menjadi waktu terbaik untuk menikmati fasilitas bus dengan lebih santai. Sebagian menikmati pemandangan, sebagian lagi memilih tertidur karena terlalu kenyang.
Akbar bahkan sempat berbincang dengan sopir bus dan mengetahui bahwa para pengemudi digaji oleh perusahaan operator, bukan langsung oleh pemerintah kota.
“Om komiu P3K Juga,? ” Tanya Akbar.
“Oh tidak, digaji perusahaan,” Ujar Sopir Bus.
Namun penutup perjalanan justru menjadi bagian paling lucu. Bus koridor yang kami tumpangi hanya berhenti sampai titik nol dan tidak bisa kembali ke Jalan Gajah Mada karena operasional koridor lanjutan telah berakhir.
Alhasil, dari titik nol kami harus berjalan kaki kembali menuju Koriru Coffee.
“Ini baru namanya perjalanan lengkap, naik bus ramai-ramai, pulangnya jalan,” celetuk Gery, yang langsung disambut tawa seluruh rombongan.

Perjalanan sore itu membuktikan satu hal: Bus Trans Palu bukan hanya alat transportasi. Ia adalah ruang kecil yang menampung seribu cerita, mempertemukan berbagai profesi, berbagai tujuan, dan berbagai tawa dalam satu lintasan.
Di atas roda-roda yang terus berputar, kota ini ternyata punya banyak cerita untuk dibawa pulang.










Komentar