BMKG Ungkap Penyebab Hujan Es di Lembah Napu Poso

OUTENTIK-Fenomena hujan es terjadi di Lembah Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/3) sore sekitar pukul 16.00 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut peristiwa tersebut dipicu pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus (CB) yang berkembang signifikan di wilayah dataran tinggi.

Peristiwa itu sempat mengejutkan warga dan beredar di media sosial. Dalam video, terlihat butiran es jatuh di kawasan Puncak Padeha Napu saat hujan masih berlangsung.

Perekam yang berada di dalam mobil memperlihatkan suara benturan butiran es di kaca kendaraan.“Masuk dalam mobil, esnya bakristal-kristal,” ujar perekam dalam video tersebut.

Ia juga menegaskan lokasi kejadian berada di kawasan Napu.

Berdasarkan pantauan citra satelit BMKG, kondisi cuaca di wilayah Napu pada pagi hingga siang hari terpantau cerah. Sekitar pukul 14.30 WITA mulai terdeteksi pertumbuhan awan, kemudian pada pukul 15.30 WITA awan konvektif terbentuk dan meluas di wilayah Napu dan sekitarnya.

Pertumbuhan awan berlangsung hingga pukul 16.10 WITA dengan suhu puncak awan mencapai minus 80 derajat Celcius. Selanjutnya pada pukul 16.20 WITA terjadi fase peluruhan awan konvektif hingga sekitar pukul 18.00 WITA.

BMKG menjelaskan hujan es terjadi akibat arus udara turun (downdraft) dari awan Cumulonimbus. Kristal es yang terbentuk di dalam awan turun dengan cepat pada fase peluruhan sehingga tidak sempat mencair sebelum mencapai permukaan.

“Fenomena hujan es disebabkan oleh awan kumulonimbus. Di wilayah indonesia biasanya terjadi pada wilayah dataran tinggi. Sering terjadi pada siang hingga sore hari,” ujar Forcaster BMKG Meteorologi Palu, Muh Fatan, Minggu.

Faktor topografi wilayah Napu yang berada di dataran tinggi turut mendukung terbentuknya hujan es karena suhu udara cenderung lebih rendah, sehingga butiran es dapat bertahan hingga mencapai permukaan.

Komentar