Temuan Situs Megalit di Poso, BPK XVIII Benarkan Ada Tulang Manusia

OUTENTIK-Warga menemukan situs megalit berupa kuburan tempayan yang berisi fragmen tulang manusia di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII memastikan temuan tersebut benar mengandung tulang manusia dan saat ini tengah dikoordinasikan penanganannya karena lokasi berada di dinding bukit di tepi jalan serta rawan longsor.

Kuburan tempayan ini awalnya ditemukan watga sekitar pada akhir Januari lalu Di desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur.

Pamong Budaya BPK Wilayah XVIII, Chalid AS, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi serta memasang pagar pengaman sementara guna melindungi temuan yang posisinya terbuka.

“Waktu kami ke lokasi, kami sudah memberikan pagar pengaman sementara, karena posisi temuan terbuka dan berada di dinding bukit di tepi jalan. Kami juga sudah mengarahkan tenaga juru pelihara kami di Napu untuk melakukan monitoring berkala terhadap kondisi temuan tersebut,” ujarnya.

BPK menyebut terdapat beberapa alternatif langkah penanganan, yakni mempertahankan temuan sebagai display atau museum terbuka, memindahkan temuan ke tempat yang lebih aman seperti museum atau kantor desa, maupun menimbun kembali temuan yang telah terekspos.

“Poin 2 dan 3 agak lebih sulit karena kondisi tempayan sudah pecah dan lokasinya rawan longsor. Saat ini kami masih mengoordinasikan langkah-langkah tersebut dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Poso sebagai unsur yang memiliki kewenangan,” jelasnya.

Hasil identifikasi awal menunjukkan satu dari dua tempayan yang ditemukan berisi tulang manusia, meski jumlahnya hanya satu fragmen. Jenis peninggalan tersebut merupakan kuburan tempayan yang cukup banyak ditemukan di wilayah Lore.

“Masih terlalu spekulatif untuk menentukan usia pasti temuan, karena harus melalui kajian lebih lanjut. Namun, tradisi penguburan menggunakan tempayan diketahui telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu,” katanya.

BPK menegaskan penanganan lanjutan masih menunggu hasil koordinasi dengan instansi terkait guna memastikan kelestarian situs serta meminimalkan potensi kerusakan akibat kondisi geografis yang rawan longsor.

Komentar