OUTENTIK-Tim dokter Rumah Sakit Bhayangkara Palu mengungkapkan Nurhanisa, istri korban pembunuhan sadis di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengalami trauma berat setelah menyaksikan langsung suami dan anaknya yang masih berusia dua tahun dibunuh.
Meski begitu, kondisi fisik korban kini telah melewati fase kritis usai menjalani operasi.
“Kita tidak hanya menangani secara fisiknya saja, tapi psikisnya juga. Dia baru saja melewati kejadian yang sangat-sangat di luar nalar. Anaknya meninggal di depan mata dia, suaminya juga dibunuh di depan mata dia. Pasti ada trauma,” ujar Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Palu AKBP dr. Judy Dermawan, Kamis (30/7/2026).
Judy mengatakan, pemulihan Nurhanisa tidak hanya difokuskan pada luka akibat serangan, tetapi juga kondisi psikologisnya. Setelah kondisi fisiknya membaik, korban akan menjalani pendampingan oleh psikiater dan psikolog agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan.
“Harapannya pasien sembuh, baik secara jasmani maupun rohani. Yang paling berat setelah kejadian ini adalah traumanya. Kalau tidak ditangani dengan baik, maka bisa berkepanjangan,” jelasnya.
Secara medis, kondisi Nurhanisa dinyatakan terus menunjukkan perkembangan positif. Korban kini masih dirawat di ruang ICU dengan kondisi sadar dan tidak mengalami komplikasi pascaoperasi.
“Secara umum kondisinya baik. Dari monitor semuanya normal dan tidak ada komplikasi setelah operasi,” katanya.
Dokter juga mengungkapkan korban mengalami sejumlah luka tusuk dan sabetan. Beruntung, luka tersebut tidak mengenai organ vital meski posisinya sangat dekat.
“Untungnya tusukan ataupun sabetan itu tidak mengenai organ vital, tapi nyaris mengenai organ vital,” pungkasnya.
Sebelumnya, Jamil dan putranya yang berusia dua tahun tewas dibunuh di rumah mereka di Kelurahan Duyu pada Minggu (26/7/2026). Sementara Nurhanisa selamat meski mengalami luka serius. Polisi hingga kini masih memburu terduga pelaku berinisial AK yang merupakan rekan kerja korban.
