Tangisan, Teriakan Minta Tolong hingga Ancaman Pembunuhan: Kronologi Ayah-Anak Tewas di Palu

OUTENTIK-Suara tangisan terdengar dari sebuah rumah di Jalan PDAM, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (26/7) malam.

Warga yang mendengarnya awalnya mengira hanya terjadi pertengkaran rumah tangga. Namun, beberapa jam kemudian, seorang ayah berinsial J (32) dan putranya yang masih berusia dua tahun, R ditemukan tewas di dalam rumah. Sementara istri J, berinsial N selamat meski mengalami luka dan kini masih menjalani perawatan intensif.

Kesaksian warga menjadi petunjuk awal yang mengungkap detik-detik sebelum tragedi itu terjadi.

Seorang tetangga korban, Bahtiar, mengaku pertama kali mendengar suara tangisan dari dalam rumah korban.

“Pertama kami mendengar suara tangisan dari rumah ibu tersebut. Yang menangis itu sepertinya ibu dan anaknya. Tidak berselang lama, kedua suara tangisan itu tiba-tiba hilang,” ujar Bahtiar.

Tak lama berselang, suasana berubah mencekam. Dari dalam rumah terdengar suara seseorang meminta pertolongan.

“Ada juga suara minta tolong dari dalam rumah. Saya kemudian berinisiatif mendatangi rumah itu dan berdiri di depan pagar. Saya sempat berteriak, ‘Komiu tidak apa-apa?’ Tapi tidak ada respons sama sekali,” tuturnya.

Bahtiar mengatakan, saat itu dirinya belum menaruh curiga telah terjadi tindak pidana. Ia bersama warga lainnya mengira keributan tersebut hanya persoalan rumah tangga.

“Awalnya kami pikir mungkin karena cekcok rumah tangga.”

Tak lama kemudian, tetangga lain yang rumahnya berada di samping lokasi juga keluar karena mendengar tangisan tersebut. Warga kemudian berdatangan ke depan rumah korban.

Karena tidak ada jawaban dari dalam rumah, warga akhirnya menghubungi Ketua RT. Namun, tidak seorang pun berani masuk ke dalam rumah.

“Karena tidak ada respons, warga telepon Ketua RT. Tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian polisi datang,” katanya.

Harapan agar penghuni rumah masih selamat sirna ketika polisi membuka rumah tersebut.

“Saat polisi masuk ke dalam rumah, mereka menemukan suami dan anaknya sudah meninggal dunia. Suaminya kayaknya ditusuk, sedangkan anaknya hanya ditutup mulutnya,” ungkap Bahtiar.

Kasatreskrim Polresta Palu AKP Ismail mengatakan hasil penyelidikan sementara menunjukkan aksi pembunuhan diduga sudah berlangsung ketika warga mendengar keributan sekitar pukul 22.00 Wita.

Menurut Ismail, Bahtiar bersama Ketua RT Nurhamid menjadi saksi yang pertama kali mendengar suara gaduh dari rumah korban.

“Sekitar pukul 22.00 Wita, saksi atas nama Bahtiar bersama Ketua RT mendengar suara keributan dari rumah korban,” kata Ismail.

Di tengah keributan itu, saksi juga mendengar suara ancaman yang diduga diucapkan pelaku kepada istri korban.

“Saksi juga sempat mendengar seseorang berkata, ‘Kalau kau besar suaramu, saya bunuh juga kau!’ Ucapan itu diduga ditujukan kepada istri korban, Nurhanisa,” ujarnya.

Polisi menduga Jamil menjadi korban pertama. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya sejumlah luka tusuk di tubuh korban.

“Kemungkinan sebelum itu pelaku sudah lebih dulu melakukan penganiayaan terhadap saudara Jamil hingga meninggal dunia, karena ditemukan beberapa luka tusuk pada tubuh korban,” jelas Ismail.

Sementara itu, hasil pemeriksaan awal menunjukkan anak korban diduga tidak meninggal akibat senjata tajam.

“Kalau karena senjata tajam sepertinya tidak. Kemungkinan wajahnya ditindih menggunakan bantal atau benda lain,” katanya.

Dalam penyelidikan, polisi mengungkap korban bersama istri dan anaknya tinggal di lokasi tempat pemotongan ayam tempat mereka bekerja.

Beberapa jam sebelum pembunuhan, J diketahui sempat mendatangi rumah terduga pelaku berinisial AK bersama atasannya untuk mengambil sepeda motor.

“Pada sore sebelum kejadian, saudara J bersama bosnya sempat pergi mengambil sepeda motor di rumah terduga pelaku AK. Setelah itu mereka pulang. Sampai sekarang belum diketahui apa penyebab sehingga terduga pelaku AK melakukan penganiayaan,” ujar Ismail.

Polisi memastikan tidak ada hubungan keluarga antara korban dan terduga pelaku. Keduanya hanya bekerja di tempat pemotongan ayam yang sama.

Hingga kini, motif pembunuhan masih menjadi teka-teki karena terduga pelaku belum berhasil ditangkap.

Meski demikian, polisi mengaku telah mengantongi identitas pelaku dan masih melakukan pengejaran.

“Untuk identitas terduga pelaku sudah kami ketahui. Saat ini tim Jatanras yang dipimpin Ipda Rastra bersama Kanit Reskrim Polsek Palu Selatan, Ipda Ridho, masih melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku,” pungkas Ismail.

Kasus pembunuhan yang merenggut nyawa ayah dan anak itu masih terus didalami. Polisi kini berupaya menangkap terduga pelaku sekaligus mengungkap motif di balik aksi keji yang menggemparkan warga Kota Palu tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *