Di Tepi Lindu

Oleh : Mas RG

‎‎‎‎Ingatan kadang bekerja seperti kompas yang tak pernah benar-benar rusak. Ia selalu menemukan jalan pulang. Meski harus melewati rimba kenangan yang telah lama ditinggalkan.

Begitulah yang dialami Afik, ketika satu dekade setelah perjalanan pertamanya, ia kembali menapaki jejak menuju Danau Lindu. Sebuah tempat yang dulu terasa seperti ujung dunia.‎‎

Sepuluh tahun lalu, Afik hanyalah seorang mahasiswa yang berangkat bersama puluhan teman sealmamaternya. Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan mengemban tugas akademik mendata kasus schistosomiasis (penyakit yang kala itu menjadi bayang-bayang di wilayah Lindu).

Perjalanan mereka seperti menembus tubuh bumi. Jalanan rusak parah, kendaraan tak mampu melaju, dan kaki menjadi satu-satunya harapan untuk tiba di tujuan.‎‎

“Lalu kami jalan kaki ke atas, karena jalannya rusak sekali, mobil tidak bisa lewat,” kenang Afik.

Kalimat itu seperti serpihan masa lalu, menggambarkan betapa kerasnya medan yang mereka hadapi demi menuntaskan tanggung jawab.‎‎

Kini, satu dekade berselang, langkah Afik kembali mengarah ke tempat yang sama. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Bersama 11 orang lainnya, perjalanan itu menjelma menjadi mosaik kebersamaan lintas profesi.

Perawat, bidan, jurnalis, analis kesehatan, hingga wirausaha.

Sebuah rombongan kecil yang dipersatukan oleh rasa ingin tahu. Rencana perjalanan itu hanya digodok selama sepekan. Menariknya, dari 12 orang yang berangkat, hanya Afik dan Kailismi yang pernah mencicipi udara Lindu sebelumnya. Itu pun sepuluh tahun silam.

Persiapan dilakukan sederhana namun penuh semangat. Bekal makanan, minuman, hingga camilan dikemas seperti amunisi untuk menghadapi petualangan. Danau Lindu, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, bukan sekadar destinasi. Ia adalah panggung alam yang menyimpan cerita.

Perjalanan dimulai selepas salat Jumat, meski waktu keberangkatan molor hingga pukul 18.30 WITA. Keterlambatan seorang rekan (Gery) menjadi riak kecil dalam rencana besar, bahkan sempat menggoyahkan niat sebagian anggota.

Namun rasa penasaran lebih kuat dari keraguan, perjalanan tetap dilanjutkan.

Dua jam berselang, rombongan tiba di Desa Sadaunta, gerbang menuju Lindu. Malam telah menggulung langit, dan harapan untuk bertemu Ibu Yekti, pemilik penginapan yang sebelumnya telah dihubungi, tampak redup. Ia diduga telah terlelap dalam pelukan malam. (Ibu Yekti tertidur).

Tanpa banyak pilihan, mereka bertanya kepada seorang pedagang setempat.‎

“Tante masih jauh Desa Tomado,?. Tau Rumah Ibu Yekti,?,” tanya Rahmat.

“Oh iya, di pinggir danau, sekitar 17 kilometer lagi dari bawah,” jawab pedagang itu, seperti memberi petunjuk menuju sebuah rahasia.

Perjalanan pun berlanjut. Jalanan berubah menjadi ular panjang yang melilit perbukitan. 12 kilometer tanjakan, hutan lindung, dan jurang yang menganga menjadi saksi bisu keberanian mereka.

Desa Langko menjadi persinggahan pertama. Di sana, secercah harapan muncul lewat Deska, teman Kailismi, yang menguatkan arah rumah Ibu Yekti berada di tepi danau, dekat lokasi festival.‎

“Eh ini jalan terus saja nanti,?  tidak belok,” Kata Rahmat yang mengemudikan mobil. ‎‎

“Io jalan terus saja, pokoknya dapat ujung air itu sudah danau,” jawab Restu dan Afik.

Namun perjalanan tak selalu lurus. Saat mereka mengikuti jalan hingga “ujung air”, yang ditemukan hanyalah dermaga kecil dan jalan buntu.

Kata “ujung air” mengundang tawa di dalam mobil.

Beruntung, beberapa pemuda setempat hadir seperti penunjuk arah dalam cerita rakyat. Mereka mengarahkan rombongan menuju lokasi yang benar.

Dan di sanalah, di antara gelap dan dingin malam, sebuah tangan melambai dari kejauhan.“Parkir sini saja!” seru seorang remaja yang melingkarkan sarung di lehernya. ‎

“Ia betul, ini sudah lokasinya,” Kata Kailismi.

Wisnu, namanya. Ia menunggu, dititipkan oleh ibunya, Yekti yang telah lebih dulu terlelap. Di rumah sederhana di tepi danau itu jadi persinggahan kami. ‎‎

Tanpa banyak kata, dua belas orang itu segera bertransformasi menjadi satu dapur. Malam di tepi Lindu berubah menjadi panggung kecil gotong royong.

Kailismi berdiri sebagai “dirigen rasa”, meracik mie nyemek dan ayam goreng bawang putih, dibantu Nindi dan Geri. Di sisi lain, bara api menyala di tangan Afdal dan Akbar yang membakar ikan, dengan Afik turut membantu menjaga nyala.

Cemma, Restu, Nia, dan beberapa lainnya sibuk menyiapkan peralatan makan, seperti menyusun potongan puzzle yang akan segera lengkap.

RG mengabadikan setiap momen. Viola, dengan ragu yang manis, belajar menggoreng, sebuah langkah kecil yang terasa seperti inisiasi. (Viola tau masak, tapi masak mie).

Sementara Rahmat mengambil peran sebagai pengarah, memastikan semua bergerak dalam ritme yang sama. (Ini kontraktornya).

Di tengah kesibukan itu, Ibu Yekti dan suaminya yang sempat terbangun ikut membantu. Kehangatan mereka membuat rombongan merasa seperti pulang ke rumah keluarga sendiri.

Sekitar 40 menit kemudian, hidangan tersaji. Mie nyemek dan ayam goreng bawang putih ala Kailismi mengepul seperti kabut yang menggoda, sementara ikan bakar katombo racikan Akbar dan Afdal menghadirkan aroma laut yang menyelinap di antara dinginnya udara danau.

Malam itu, rasa lapar tak hanya terobati, tetapi juga dirayakan.

Usai makan, kelelahan datang seperti ombak yang tak bisa ditahan. Nasi dan lauk seakan “naik ke mata”, membuat tubuh menyerah pada kantuk.

Obrolan singkat menjadi penutup, sebelum satu per satu, terutama para perempuan, terlelap dalam tidur yang dalam. ‎

Sebagian terlelap cepat, menyerah pada lelah. Sebagian lain bertahan, bermain kartu, berbagi cerita, atau sekadar menikmati hangatnya malam. (Yang menikmati hangatnya malam ini, Nindi, Afdal dan Wisnu).

Di antara tawa malam itu, ada satu cerita kecil yang tak banyak disadari. Akbar, yang selama ini kerap berjuang dengan penyakit asam lambung saat berada di Palu, justru terlihat berbeda di Lindu.

Tak ada keluhan, tak ada wajah menahan nyeri. Ia makan lahap, tertawa lepas, dan bergerak tanpa beban.

Entah karena udara pegunungan yang sejuk, ketenangan alam, atau rasa bahagia yang mengalir tanpa jeda. Lindu seolah menjadi obat yang tak tertulis, menyembuhkan tanpa resep.

Hingga akhirnya, hanya tiga orang yang tersisa terjaga hingga pagi. Geri, Afik, dan RG.

Fajar datang perlahan. Cahaya matahari muncul dari balik perbukitan, menyinari permukaan danau yang tenang.“Kita tidak sia-sia tidak tidur,” ujar Geri.

Momen itu dimanfaatkan untuk mengabadikan keindahan yang tak bisa diulang. Beberapa teman lain mulai bangun, melaksanakan salat subuh, dan menikmati udara pagi yang sejuk.

Di sela itu, terdengar cerita ringan. Terdengar suara dari bilik kamar sejumlah perempuan yang terlelap. “Tadi malam ada yang dengkur keras sekali,” kata salah satu dari mereka, disambut tawa. (oh ia, dengkurannya kayak bunyi kendaraan naik ke puncak Salena. Entahlah, itu siapa).

Danau Lindu sendiri berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, dengan luas kurang lebih 3.400 hektare, dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Selain keindahan alamnya, danau ini juga menyimpan kearifan lokal yang masih dijaga.

Salah satunya “ombo”, larangan adat yang menghentikan aktivitas penangkapan ikan dalam kurun waktu tertentu. Sebuah jeda yang bukan sekadar aturan. Saat ombo berlaku, danau seperti diminta untuk bernapas.

Tradisi ini biasanya diberlakukan saat ada peristiwa adat, termasuk ketika salah satu tokoh adat meninggal dunia.

Noted : Danau Lindu terletak di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Dapat ditempuh melalui jalur darat dari Kota Palu, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam (jarak km).

Ada lima desa di sekitarnya yaitu Purwo, Langko, Tomado, Anca, dan Olu.

Siang hari, suasana kembali santai. Ubi yang dipetik langsung dari kebun oleh Ibu Yekti menjadi santapan.

“Ini ubi, baru saya cabut dari kebun,” ujarnya. Ubi itu direbus dan disantap dengan sambal sederhana (Tidak tau siapa yang masak, karena penulis tertidur).

“Rezeki tidak boleh ditolak,” kata salah satu dari rombongan.

Rencana ke salah satu wisata air terjun sempat muncul, namun keterbatasan biaya membuatnya tertunda. Sebagai gantinya, beberapa dari mereka memilih berkeliling danau menggunakan perahu.

Sementara itu, sebagian lainnya memilih tetap di darat, menikmati suasana. (Bukan, karena dorang takut. Perahunya tidak ada sema-sema).

Menjelang sore, rombongan bersiap kembali ke Palu. Namun sebelum pulang, mereka menyempatkan diri menuju padang rumput yang viral di media sosial karena adanya ratusan kawanan kuda.

Perjalanan ke lokasi itu tidak mudah. Jalan becek dan harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar dua kilometer.

“Ternyata tidak semudah di video,” ujar Nia. Namun usaha itu terbayar ketika mereka menemukan segerombolan kuda.

Meski tidak berlarian seperti di video viral, momen itu tetap menjadi cerita.

Perjalanan pulang ditutup dengan singgah di Desa Kaleke. Seporsi nasi kuning mulai harga Rp.3000 menjadi penutup sederhana.

Di balik seluruh perjalanan, tersimpan rasa syukur. Di tepi Lindu, mereka belajar satu hal sederhana. Perjalanan bukan hanya tentang tujuan, tetapi tentang cerita yang tertinggal dan orang-orang yang membuatnya berarti.

“Terima kasih untuk semua—Tuhan, keluarga, dan terutama Ibu Yekti yang sudah menerima kami seperti keluarga,” ujar Afik.

Komentar