OUTENTIK-Di sebuah sudut Kota Palu, tepatnya di Kelurahan Nunu, berdiri sebuah kelompok yang lahir dari kegelisahan anak-anak muda akan rutinitas yang menjemukan.
Mereka bukan pencari gaduh, tapi pencari puncak. Menamai diri mereka KPA PEACE, sebuah simpul kecil pecinta alam yang kini telah menorehkan jejaknya hingga Asia.
Tahun 1999, Jalan Jati di Nunu menjadi saksi lahirnya komunitas ini. Hanya 17 orang kala itu. Mereka tidak membawa atribut mewah, hanya niat sederhana untuk menyatu dengan alam dan menyalurkan jiwa petualang dalam olahraga panjat.
Di antara mereka, ada nama Arianto sebagai pemantik api kecil yang kemudian menjelma kobar semangat, bersama nama-nama lain. Seperti Nur Salam, Fadli Susanto (Aling), Ahdiat, Zumran, Risman, Wahab Sibedi, Oland Minoritas, Jhon, Fahmi, Roy, Arifin, Maslin (Alm), Eni, ABd Wahab hingga Hendra dan Alam.
“Ia kami berdiri pada tahun 1999 alhamdulillah ini juga Milad KPA Peace,” ujar Nursalam.
Awalnya, mereka hanya berkumpul tanpa arah pasti, sekadar menyalakan api unggun di sela malam, berbincang tentang mimpi dan langkah.
Namun perlahan, mereka menapak lebih serius. Mereka membangun dinding panjat, bukan dari batu granit, tapi dari semangat dan gotong royong.
Tahun 2000, turnamen panjat pertama mereka digelar. Bukan sekadar lomba, tapi ajang pembuktian bahwa dinding yang mereka bangun dari tangan sendiri bisa melahirkan juara.
“Ia awal kejuaraan tahun 2000 kalau tidak salah. Dan masih banyak turnamen turnamen lain yang dibuat PEACE,” paparnya.
Dari dinding inilah, lahir nama-nama atlet tangguh yang kelak mengangkat nama Kota Palu. Salah satu yang paling bersinar adalah Muhammad Djunaid Sutanto.
Ia bukan sekadar memanjat tebing, tapi menjejak sejarah, mendaki podium perak di Kejuaraan Asia. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa mimpi dari lorong kecil bisa bergema hingga panggung benua.
“Banyak sudah atlet dari KPA Peace, kalau hanya turnamen nasional sudah langganan,” jelas Nursalam.
Tak hanya Djunaid, ada pula Fadli Susanto, Risman, Oland Minoritas, dan puluhan nama lain yang pernah mencicipi kejuaraan.
Mereka adalah para penjaga dinding. Bukan dalam arti literal, tetapi penjaga nilai dan tradisi latihan keras yang diwariskan sejak generasi pertama.
Kini, wajah-wajah baru seperti Tino, Sauki,Syifa, Alan, Ranu dan beberapa anggota lainnya mulai mengambil tali tambang perjuangan. Mereka melanjutkan estafet semangat yang dulu ditanam di tanah berdebu Kelurahan Nunu.
Namun KPA PEACE bukan hanya tentang panjat. Mereka adalah komunitas yang menjadikan nilai kemanusiaan sebagai tali pengikat. Sunatan massal, kegiatan sosial, hingga festival musik menjadi cara mereka untuk menapak bumi sembari tetap menatap langit.
Dua puluh enam tahun lebih sejak pendiriannya, KPA PEACE masih berdiri. Seperti akar pohon yang terus menjalar dalam diam, mereka tumbuh dalam semangat, menjulang dalam prestasi, dan tetap merunduk dalam pengabdian.
Mereka menulis sejarah. Bukan dengan tinta, tapi dengan goresan kapur di dinding panjat, keringat yang menetes di siang bolong, dan mimpi yang tidak pernah usang.
3 Juli 2025, KPA PEACE akan menggelar Turnamen PEACE Kaili Sport Climbing — Walikota Cup II. Tak hanya ajang kompetisi, ini juga akan menjadi reuni besar-besaran, tempat berkumpulnya para peletak batu pertama, atlet senior, anggota muda, dan seluruh elemen yang pernah mengisi perjalanan panjang organisasi ini.
Dalam momen itu, bukan hanya tali pengaman yang akan dikencangkan, tetapi juga tali persaudaraan yang selama ini terikat kuat oleh semangat alam dan kebersamaan.
Dua puluh lima tahun lebih telah berlalu sejak pertama kali mereka berdiri. Tapi semangat itu masih hidup, menjulang di antara tebing-tebing, dan berakar dalam di hati para pencinta damai yang memanjat bukan sekadar batu, tapi juga mimpi.
“Insyaallah, turnamen ini berjalan dengan lancar dan tentu kami dari KPA Peace bisa berkumpul dan menjaga sikaturahmi lagi. Baik pendiri dan kami semua pengurus dan anggota,” ujar AIPDA Suyatno, Ketua KPA Peace.









Komentar