Bak magnet, sebuah warung berwarna biru menghentikan kendaraan saya. MITO, seperti itu tulisan di spanduk yang terpampang depan tempat sederhana tersebut.
Saat menengok ke depan, tampak tugu dengan patung bertuliskan Monumen Lasanindi (salah satu yang diusulkan menjadi pahlawan Sulawesi Tengah). Tersadar, ternyata lokasi ini ada di Desa Toaya, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
“Assalamualaikum, Assalamualaikum, permisi,” ucap seorang wanita yang juga terhenti di warung tersebut.
Tak lama, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah di belakang warung. Tanpa sepatah kata apapun, warung yang tadinya masih terkunci langsung di bukanya.
“Tante mie dua. Kak mie juga,?” Tanya wanita yang sebelumnya memberikan salam.
Percakapanpun terjadi antara kami berdua, mulai dari berkenalan dan cerita cerita ngawur lainnya.
“Oh ia saya juga dari Palu. Berarti sama sama dari Palu. Saya tadi singgah karena dari Enu (salah satu lokasi wisata di Kabupaten Donggala). Ini sudah mie yang jadi cerita ceritanya orang di Kota Palu itu, enak mienya,” ucap Alfis nama seorang wanita tersebut.
Sambil menunggu serta rasa penasaran muncul dari perkataan Alfis. Sedikit berbincang dengan wanita paruh baya tadi, ternyata namanya Siti Fatimah pemilik warung yang diberi nama MITO.
Warung ini sengaja dibuka mulai pukul 17:00, saat langit mulai memerah dan orang-orang yang baru saja selesai beraktivitas mulai berduyun-duyun datang.
Tak selang lama, warung tadipun penuh. Tak tau asal mereka darimana. Kalau dugaan Alfis semua itu orang dari luar Desa Toaya. “Orang luar semua ini, habis liburan kan tadi libur, hari minggu,” ucapnya sedikit senyum.
Takselang lama, “Praak..prakkkk” bunyi mangkuk berbenturan dengan meja. Siti Fatimah tak berkata apa apa dan berlalu pergi. Cuman paduan aroma dari isi mangkok yang langsung menyentuh indra penciuman.
“Ini sudah MITO,” kata Alfis sembari mengambil kecap dan jeruk nipis untuk menambah rasa pada MITO.
MITO Since 1997

MITO (Mie Kuah Cakalang Toaya) yang ada Di Desa Toaya, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Sebuah desa yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Warung yang dikelola Siti Fatimah ini sudah lebih dari dua dekade menyajikan mie dengan cita rasa yang begitu khas, tak hanya bagi warga sekitar, tetapi juga para pelancong yang datang dari berbagai penjuru, terutama dari Kota Palu.
MITO menjadi saksi bisu dari perjalanan kuliner yang penuh dengan cerita, tantangan, dan tentunya rasa dari tahun 1997.
Resep rahasia mie cakalang yang disajikan sudah diwariskan turun-temurun dalam keluarga Siti Fatimah. Rasa gurih ikan cakalang yang dimasak dengan cara khusus, dipadukan dengan mie yang kenyal, menciptakan sensasi yang menggetarkan lidah.
Membuat MITO jadi identitas kuliner yang kuat di Desa Toaya.
Tak jarang pengunjung dari luar daerah datang sekadar untuk merasakan sensasi mie ini. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa rasa mie cakalang Toaya memiliki daya tarik yang tak tertandingi, sulit untuk ditemukan di tempat lain. Ada kesederhanaan dalam suasana warung ini, yang menambah kenyamanan bagi pengunjung.
Untuk menambah kenikmatan, pengunjung bisa memilih untuk menambah toping sesuai selera. Telur rebus dengan harga Rp3.000 dan kacang goreng Rp2.000 rupiah.
Yang menarik, meskipun MITO terletak jauh dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah atau Kota Palu, Sebagian besar pengunjungnya adalah warga dari Kota Teluk tersebut. Perkiraan Jaraknya sekitar 40 kilometer.
Bagi Siti Fatimah, MITO bukan hanya sekadar usaha. Ini adalah bagian dari hidupnya. Sebuah warisan yang tak ternilai harganya. Setiap hari, Siti Fatimah mencoba untuk menyajikan mie cakalang yang terbaik. Dia tidak hanya memperhatikan bahan-bahan yang digunakan, tetapi juga detail dalam cara memasak dan menyajikan.
Kualitas mie yang dihasilkan selalu terjaga, karena bagi Siti Fatimah, setiap pelanggan berhak merasakan pengalaman yang sempurna. “Kami ingin pelanggan datang kembali karena rasanya, karena kehangatan tempat ini, dan karena kenikmatan yang kami tawarkan,” ujarnya penuh harapan.
MITO bukan hanya sebuah kuliner mie, tetapi telah menjadi simbol dari cerita panjang yang terjalin antara rasa, ketekunan, dan budaya kuliner yang terus berkembang. MITO adalah tempat di mana rasa bertemu dengan sejarah, di mana setiap suapan membawa kita pada kenangan indah masa lalu yang tetap terjaga dengan penuh cinta.

Bagi setiap orang yang datang, baik dari Desa Toaya, Kota Palu, maupun daerah lainnya, MITO adalah tempat di mana mereka menemukan rasa yang bukan hanya lezat, tetapi juga penuh makna.
Sebuah warisan kuliner yang terus hidup, membawa dalam perjalanan rasa yang tak lekang oleh waktu.
Tidak salah, hampir semua warga Desa Toaya mengenal MITO. Yaa, jika anda sampai di Desa Toaya, pilihlah salah satu rumah dan tanyakan “Dimana yang jual mie cakalang,”.
“Eh eh eh, enak ini aa.? Kau di Palu dimana,” tanya Alfis sambil menikmati MITO, yang tak sadar di dalam mangkuknya tersisa sedikit dari air kuah MITO.
Karena hari sudah gelap, kami harus beranjak dari tempat tersebut dengan tidak menyisakan setetes air kuah MITO.
“Tante berapa semua,? Mienya dua, telur dua, kacang dua,” kata Alfis kepada Siti Fatimah.
“40 ribu,” ucap Siti Fatimah dengan sedikit lesung pipi yang tampak malu malu terlihat.
Berarti satu porsi MITO hanya berharga Rp15.000 per mangkuknya.
Kamipun berlalu pergi menuju ke kendaraan masing masing dan meninggalkan kenangan di bangunan sederhana berukuran lebar 3 meter dan panjang 6 meter itu.
Tak terasa, perjalanan kami berdua telah sampai di pintu perbatasan Kabupaten Donggala dan kota Palu. “Masih jam 8, mau singgah ngopi ?”teriak Alfis dari sepeda motornya.
Kami pun tiba disebuah kedai Kopi kekinian di Kota Palu. Seolah tak bisa dilupakan, percakapan kami hanya membahas tentang MITO. Sesekali, Alfis juga melihat akun media sosialnya untuk mencari tau lebih dalam tentang MITO.
Tiga jam berlalu, kamipun mulai terasa dekat, dengan cerita yang mungkin sebagian ngawur ngidul, saling tukar nomor HP dan Media sosial, dan tentunya dengan cerita MITO. Kamipun memutuskan untuk pulang.
“Eh lain kali kesana lagi, ayooo. Eh io saya ada Kucing masih kecil bisa saya titip sama kau dulu,? Berapa hari ke depan saya mau ke Kalimantan,” ucap Alfis sambil memakai helmnya.
Anggukan mengakhiri cerita tersebut.










Komentar