Bocah Toli-Toli Viral Jago Biliar, Ketua POBSI Sulteng : Potensi Besar Untuk Sulteng

OUTENTIK-Aksi Fajar Alamri, bocah berusia 5 tahun asal Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, yang tampil di ajang Carabao International Open (CIO) 2026 menyita perhatian publik dan pengurus olahraga biliar.

Ketua PB POBSI Sulawesi Tengah, Andi Raharja Limbunan, menilai fenomena tersebut sebagai sinyal kuat pentingnya pembinaan atlet usia dini di daerah.

“Iya, betul. Itu Fajar. Kemarin saya sempat bertemu dengan ayahnya di Jakarta, sekitar satu minggu sebelum event yang dia ikuti,” ujar Andi Limbunan, Senin (9/2/2026).

Menurut Andi, keikutsertaan Fajar di turnamen internasional berawal dari video viral di media sosial yang memperlihatkan kemampuan bocah tersebut bermain biliar di usia sangat muda. Video itu kemudian menarik perhatian pihak penyelenggara.

“Fajar ini, berdasarkan pengakuan orang tuanya, diundang oleh pihak Karabau karena mereka melihat video viral di media sosial—anak usia lima tahun yang sudah bisa memukul bola biliar dengan baik. Dari situ Karabau melihat ada potensi. Saya pribadi juga melihat ada potensi besar,” jelasnya.

Andi menilai Fajar berpeluang menjadi generasi masa depan olahraga biliar Sulawesi Tengah, asalkan mendapat pembinaan yang tepat.

“Harapannya, ke depan jika POBSI memiliki pelatih berstandar nasional di Sulawesi Tengah, anak ini bisa diarahkan dengan benar, bahkan potensinya bisa jauh lebih besar dibanding atlet-atlet kita saat ini,” katanya.

Ia mengakui, selama ini pembinaan atlet biliar di Sulawesi Tengah masih minim pelatihan formal. Sebagian besar atlet berkembang secara otodidak, sehingga prestasi cenderung tidak stabil.

“Kalau bicara pembibitan, jujur saja, rata-rata atlet biliar di Sulawesi Tengah itu tidak pernah dilatih secara formal. Semua otodidak. Makanya prestasi kita naik-turun seperti roller coaster,” ungkap Andi.

Sementara itu, Fajar Alamri mencuri perhatian publik setelah tampil di CIO 2026 yang digelar di kawasan PIK 2, Jakarta, pada 4–8 Februari 2026.

Turnamen tersebut diikuti 341 peserta dari 31 negara, dengan batas usia peserta hingga 17 tahun.

“Ia benar itu anak saya, kemarin ikut turnamen internasional di Jakarta,” ujar Jafar Alamri, ayah Fajar, Senin (9/2/2026).

Fajar tercatat sebagai peserta termuda dalam turnamen tersebut dan langsung tampil di stage 2 atau babak utama, meski harus tersingkir karena sistem pertandingan single eliminasi.

“Begitu main langsung masuk stage 2. Tapi karena sistemnya single eliminasi, kalah langsung gugur,” jelas Jafar.

Ketertarikan Fajar terhadap biliar sudah terlihat sejak usia tiga tahun. Menurut Jafar, anaknya kerap memanjat meja biliar dan mencoba membidik bola.

“Awalnya saya lihat dia suka manjat-manjat meja biliar, bidik-bidik bola. Saya perhatikan bidikannya sudah lurus,” terangnya.

Meski telah mengenal biliar sejak kecil, latihan serius baru dilakukan sekitar 5–6 bulan terakhir sejak 2025. Sebelumnya, Fajar hanya bermain secara alami tanpa target prestasi.

Lingkungan kampung yang kerap menggelar turnamen biliar juga turut mempengaruhi perkembangan Fajar. Sejauh ini, ia telah mengikuti sekitar tiga turnamen kecil sebelum tampil di level internasional.

Keikutsertaan Fajar di CIO 2026 sendiri bukan melalui pendaftaran umum, melainkan undangan langsung dari pihak penyelenggara. Ajang tersebut juga mencatatkan Rekor sebagai turnamen biliar multikategori dengan jumlah peserta terbanyak dalam satu lokasi.

Fajar merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dan masih duduk di bangku PAUD. Seluruh proses latihan masih dilakukan langsung oleh sang ayah.

“Ke depan, saya berencana terus mengikutkan Fajar dalam berbagai kejuaraan. Untuk fokus utamanya bukan semata prestasi, melainkan pembentukan mental. Yang paling penting buat saya itu melatih mentalnya dulu. Mental itu mahal,” pungkas Jafar.

Komentar