Oleh : Redaksi Outentik.id
Malam di Kota Palu tidak selalu berakhir ketika lampu rumah dipadamkan. Jalan Gajah Mada, Kecamatan Palu Barat, malam justru menemukan caranya sendiri untuk tetap hidup.
Di sana, sebuah coffee shop bernama Koriru berdiri. Bahwa begadang, kopi, dan rasa aman bisa berjalan berdampingan dalam satu ruang.
Jarum jam telah menunjuk pukul 02:30 WITA. Sebagian kota mungkin sudah terlelap, tetapi Koriru masih ramai.
Lampu temaram menyinari bangku-bangku yang menghadap ke jalan. Asap rokok mengambang pelan, bercampur dengan aroma kopi yang baru diseduh.
Obrolan kecil, tawa lepas, dan suara musik yang mengalun lembut menciptakan suasana malam yang hangat. Tidak hiruk, tidak juga sunyi.
Di Koriru, anak-anak muda menjadi denyut utama. Mereka duduk berkelompok, bersisian dengan cangkir kopi dan cerita yang mengalir tanpa jeda.
Ada yang datang dari Kota Palu sendiri, ada pula yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah seperti Buol, Sigi, dan Donggala. Jarak geografis seolah luruh begitu mereka duduk di meja yang sama.
Dialek bercampur, kisah kampung halaman saling bersahutan, dan kopi menjadi bahasa paling netral di antara mereka.
“Disini bukan hanya ngopi, tapi juga menambah teman,” ucap Dea, salah satu perempuan asal Kabupaten Buol yang tiap harinya bisa 3 sampai 4 kali ngopi.
Koriru bukan hanya tempat minum kopi. Ia adalah ruang temu. Ruang tengah bagi anak muda lintas daerah, menetap, atau sekadar melepas penat.
Di satu sudut, beberapa mahasiswa tampak sibuk dengan laptop. Di sudut lain, sekelompok anak muda asik bermain kartu.
Kadang, celetukan celetukan kasar juga terdengar tapi tak ada yang tersinggung. Coffee shop ini buka 1×24 jam. Sebuah pilihan yang memberi makna tersendiri bagi generasi yang akrab dengan begadang.
Saat malam menjadi waktu paling jujur untuk berpikir, Koriru hadir sebagai teman, mengusir. Tidak ada batasan waktu duduk, tidak ada tekanan untuk segera pulang.
Selama kopi masih ada dan kursi masih kosong, malam boleh diperpanjang.
“Saya belum lama disini, tapi tempatnya sudah mulai nyaman,” celetuk Akbar.
Menariknya, keramaian Koriru di tengah malam menyimpan pesan yang lebih besar dari sekadar gaya hidup. Pukul 02 : 30 WITA, Jalan Gajah Mada masih ramai dan terasa aman.
Anak-anak muda duduk santai di pinggir jalan, sesekali kendaraan melintas, dan tidak ada raut cemas di wajah pengunjung.
Begadang di kota ini tidak lagi identik dengan rasa waswas. Anak muda dari Buol, Sigi, Donggala, dan Palu bisa duduk berdampingan hingga dini hari. Mereka pulang dengan tenang, tanpa tergesa-gesa.
“Ia, kalau pulang dari sini juga sudah tidak takut lagi. Walaupun pulangnya ke Sigi,” kata Utun.
Ini menjadi tanda bahwa Palu sedang berada dalam fase yang ramah. Kota yang memberi ruang bagi warganya untuk menikmati malam tanpa rasa takut.
Palu, kota yang pernah melewati masa sulit, kini menunjukkan wajah yang berbeda. Kehadiran tempat-tempat seperti Koriru menjadi penanda denyut sosial yang kembali stabil.
Coffee shop 24 jam bukan sekadar bisnis kuliner, tetapi cerminan kehidupan kota yang terus bergerak, bahkan ketika malam semakin larut.
Bagi sebagian pengunjung, Koriru adalah tempat “melarikan diri” dari kamar kos yang sunyi. Bagi yang lain, ia menjadi kantor dadakan, ruang diskusi, atau tempat menunggu kantuk datang dengan sendirinya.
Obrolan ringan bisa berubah menjadi diskusi serius. Candaan bisa berujung refleksi.
“Kopi hanya pemantik, yang membuat orang bertahan adalah suasananya,” ucap Rahmat.









Komentar