OUTENTIK-Kondisi jalan penghubung dari Kecamatan Balaesang menuju Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dikeluhkan warga karena rusak parah dan belum mendapat perbaikan menyeluruh hingga saat ini.
Kevin, warga Desa Walandano, Kecamatan Balaesang Tanjung, mengatakan bahwa kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung lama dan sangat menghambat aktivitas masyarakat.
Menurutnya, jarak tempuh yang seharusnya singkat menjadi sangat lama akibat kondisi jalan yang memprihatinkan.
“Dari Kecamatan Balaesang Tanjung sendiri, mulai dari desa pertama Walandano sampai desa terakhir Manimbaya, jaraknya hanya sekitar 30 kilometer, tapi bisa ditempuh 4 sampai 5 jam,” ujar Kevin, Minggu (18/1/2025).
Ia menjelaskan bahwa Kecamatan Balaesang jika dilalui melalui jalur melingkar, jaraknya bisa mencapai sekitar 60 kilometer. Ironisnya, dari seluruh jalur tersebut, hanya sekitar lima kilometer yang beraspal, sementara sisanya rusak berat.
Kerusakan terparah, kata Kevin, terdapat pada akses jalan dari jalan poros Labean di Kecamatan Balaesang menuju Desa Walandano di Kecamatan Balaesang Tanjung. Untuk jarak sekitar 10 kilometer saja, warga harus menempuh waktu hingga 40–50 menit.
“Jalannya rusak parah, banyak titik berlubang, berlumpur, dan rawan longsor. Ini yang paling banyak dikeluhkan masyarakat sekarang,” katanya.
Kevin menambahkan bahwa jalan tersebut sempat diperbaiki sekitar tahun 2016 atau 2017 melalui pelebaran dan pengaspalan. Namun, kondisi baik tersebut hanya bertahan sekitar tiga bulan sebelum kembali rusak akibat longsor dan diperparah oleh bencana alam yang terjadi pada tahun 2018.
Saat ini, menurut Kevin, pemerintah telah melakukan pengerasan jalan di beberapa titik. Namun, pengerasan tersebut belum menyentuh Desa Walandano.
“Yang kami tunggu itu pengerasan sampai Walandano. Untuk pengaspalan juga kami pernah dengar rencananya, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Kami tidak tahu apakah memang akan dikerjakan atau hanya janji,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi kerusakan jalan dapat dengan mudah didokumentasikan karena jumlah titik rusak sangat banyak.
“Kalau dari Desa Labean sampai Walandano, bisa puluhan foto kondisi jalan seperti itu,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat segera melakukan perbaikan menyeluruh, mengingat jalan tersebut merupakan satu-satunya akses utama bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.









Komentar