OUTENTIK-Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Tojo Una-Una menyampaikan kronologi meninggalnya seorang pasien perempuan bernama Pirna (19), warga Dusun Paria, Desa Uematopa, Kecamatan Ampana Tete, yang videonya viral di media sosial karena jenazahnya diangkut menggunakan sepeda motor.
Kepala Dinkes KB Kabupaten Tojo Una-Una, dr. Niko, S.Ked., mengatakan almarhumah sebelumnya melahirkan sekitar delapan hari sebelum kejadian dan mengalami pendarahan pascapersalinan. Namun kondisi tersebut tidak segera ditangani tenaga kesehatan karena tidak dilaporkan pihak keluarga.
“Informasi kondisi pasien diterima awal tenaga kesehatan dari kader,” jelasnya.
Setelah menerima laporan tersebut, pasien kemudian dilarikan ke puskesmas.
“Jarak tempuh dari Desa Uematopa ke Dusun Paria membutuhkan waktu sekitar empat jam, sementara perjalanan dari desa tersebut ke puskesmas terdekat memakan waktu hingga delapan jam apabila cuaca dalam kondisi baik,” terangnya.
Setibanya di puskesmas, pasien mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis awal oleh dokter dan tenaga kesehatan. Saat itu, kondisi pasien sadar dan dapat berkomunikasi. Setelah dilakukan penanganan awal, pasien kemudian dirujuk ke rumah sakit ampana. Namun dalam perjalanan rujukan, kondisi pasien memburuk. Pasien mengalami syok akibat pendarahan hebat disertai sesak napas.
“Setelah satu kali tarikan napas, pasien dinyatakan meninggal dunia di perjalanan,” papar Niko.
Niko menegaskan bahwa penanganan terhadap pasien telah dilakukan sesuai dengan protokol dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Namun, setelah pasien meninggal dunia, proses pemulangan jenazah memang mengalami kendala.
Pada saat itu, hari sudah menjelang sore dan tidak ada warga yang bersedia membantu mengangkut jenazah. Keluarga sempat diminta menunggu ambulans yang saat itu sedang melakukan rujukan ke Rumah Sakit Ampana.
“Ambulans tersebut diperkirakan baru dapat tiba sekitar pukul 22.00 Wita. Namun keluarga menolak menunggu karena mempertimbangkan waktu tempuh yang panjang dan risiko harus bermalam di jalan jika perjalanan dilanjutkan pada malam hari,” tuturnya.
“Atas permintaan keluarga sendiri, jenazah akhirnya diangkut menggunakan sarana yang tersedia saat itu (Dibonceng menggunakan motor),” kata dr. Niko.









Komentar