Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tolitoli secara rutin melaksanakan pembinaan kemandirian di bidang pertanian dengan memberdayakan warga binaan, Sabtu, 03 Januari 2026.
Melalui program ini, Lapas Tolitoli mampu menghasilkan sekitar 30 kilogram sayuran segar setiap hari sebagai bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan pembinaan dilaksanakan di lahan pertanian milik lapas dan melibatkan tujuh orang warga binaan di bawah koordinasi Subseksi Kegiatan Kerja.
Para warga binaan dibina dan dilatih secara langsung mulai dari pengolahan lahan, perawatan tanaman, hingga proses panen, sehingga memiliki pemahaman utuh tentang teknik pertanian yang efektif.
Program ini sejalan dengan Sapta Arahan Kakanwil Ditjenpas Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan, serta mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 dan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, dalam mensukseskan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Kepala Lapas Kelas IIB Tolitoli, Mansur Yunus Gafur, menegaskan bahwa pembinaan pertanian ini berorientasi pada kemandirian warga binaan.
“Pembinaan kemandirian melalui pertanian ini tidak hanya bertujuan untuk mengisi waktu warga binaan, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan nyata yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke tengah masyarakat. Kami ingin warga binaan keluar dari lapas dengan kemampuan dan kepercayaan diri untuk hidup mandiri,” ujar Mansur.
Senada dengan itu, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja, Feldianto, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki nilai edukatif yang kuat.
“Melalui program ini, warga binaan dilatih secara disiplin dan bertanggung jawab. Mereka belajar bekerja secara terstruktur dan memahami proses pertanian dari awal hingga panen, sehingga nilai edukatifnya sangat kuat,” jelas Feldianto.
Sementara itu, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Frengki, menyatakan bahwa pembinaan dilakukan secara berkesinambungan dengan pendampingan intensif.
“Kami terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar kegiatan pertanian ini berjalan optimal. Harapannya, keterampilan yang diperoleh warga binaan benar-benar bisa menjadi modal usaha atau sumber penghidupan setelah bebas nanti,” ungkap Frengki.
Melalui pembinaan kemandirian di bidang pertanian ini, Lapas Kelas IIB Tolitoli berupaya mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan sekaligus mendorong kemandirian pangan yang produktif dan berkelanjutan.









Komentar