Oleh : Outentik.id – Kailismi
Namanya Ronal, tubuhnya kurus, langkahnya pelan, dan tatapannya sering tersesat di antara suara-suara. Namun dua malam terakhir, ia datang dengan kalimat yang sama, seolah menjadi pintu kecil yang ia ketuk dengan hati-hati: “RG, ba live dulu”.
Sebuah permintaan sederhana, tapi di balik kesederhanaan itu, ada rindu yang terhubung dengan dunia yang lama tidak menyapanya.
Ronal bukan anak yang banyak bicara. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat pikirannya berjalan di jalur yang berbeda.
Kadang kabut, kadang gelap, kadang terang sedikit, cukup untuk membuatnya tersenyum sendiri. Ia mampu membaca, mampu menghitung, bahkan mampu memahami instruksi-instruksi kecil.
Namun ada bagian dari hidup yang tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata, seperti puzzle yang beberapa bagiannya hilang tidak tau kemana.
Tentang keluarganya, Ronal menyimpan ingatan seperti serpihan debu, terbang ringan, tak pernah bisa digenggam. Ia tidak tahu di mana keluarganya sekarang. Tidak tahu harus mencari atau pulang ke mana.
Kadang ada cerita kecil yang sesekali muncul, seperti kilasan masa lalu yang enggan menetap. Namun selebihnya, hidupnya adalah langkah tanpa peta.
Yang paling menyayat dari Ronal adalah kesunyiannya. Ia bisa menahan lapar dan tetap diam, bahkan ketika tubuhnya butuh makan. Jika tidak ditanya, ia tidak berkata apa-apa. Jika tidak diingatkan, ia tidak bergerak untuk mencari. Dunia dalam kepalanya begitu riuh hingga suara perutnya sendiri pun mungkin terkalahkan.
Tetapi lingkungan ia tinggal masih menyimpan hati yang tidak membatu. Ada warga yang sesekali memberinya makanan dan minuman. Ada yang memanggilnya untuk bekerja mengangkat timbunan pasir.
Suatu pekerjaan yang membuat tubuhnya berpeluh, namun memberinya uang yang ia gunakan secara bijak.
Seolah ia takut merepotkan siapa pun, takut menambah beban orang lain. Upah itu dia belikan makanan dan minuman.
Siaran langsung TikTok yang ia minta itu bukan panggung hiburan. Bukan pula permainan untuk ditertawakan.
Sesungguhnya itu hanyalah lampu kecil di sudut gelap dunianya. Saat kamera menyala, Ronal seperti punya tempat untuk hadir. Ada ruang yang mengakui keberadaannya. Ada manusia lain di balik layar yang melihatnya, bukan dengan pandangan menghakimi, tapi dengan rasa ingin tahu dan simpati.
Lama-lama, perkembangan itu terlihat. Cara ia menatap lebih fokus. Cara ia menjawab tidak lagi selesau dulu. Sedikit demi sedikit, cahaya itu merembes masuk.
Sekarang, Ronal tinggal di sebuah gubuk kecil milik seseorang yang memberinya tempat berteduh. Sebuah ruang sederhana yang baginya sudah lebih dari cukup. Namun tentu saja, ia membutuhkan lebih dari itu. Ia membutuhkan pendampingan, perhatian, dan lembaga yang bisa mengayomi mereka yang berjalan di dunia yang sama sekali berbeda dari kita.
Karena sejatinya, anak seperti Ronal bukan masalah. Mereka bukan beban. Mereka adalah manusia yang butuh dipandu, butuh dijaga, dan butuh diberi kesempatan untuk merasakan hidup dengan cara yang lebih layak.
Dan mungkin, lewat permintaan kecil untuk “ba live dulu” itu, Ronal sedang meminta sesuatu yang jauh lebih besar dari hiburan. Ia sedang mengetuk dunia. Pelan, tapi sungguh-sungguh.Mungkin ia tidak meminta belas kasihan. Tidak meminta disayangi. Ia hanya ingin dilihat. Diakui. Dan dipercaya bahwa ia pun layak ikut berjalan bersama kita, meski jalannya berbeda, meski langkahnya lambat, meski ada hari-hari ketika pikirannya tertinggal jauh di belakang.
Namun selama masih ada yang mau mendengar, selama masih ada yang mau menuntunnya perlahan, selama masih ada kamera kecil yang ia anggap sebagai jendela, harapan itu tetap ada.
Suatu malam, saya pernah bertanya, pertanyaan yang mungkin terlalu berat, tapi keluar begitu saja, “Ronal, kenapa kau bisa jadi seperti ini?”
Ia berhenti. Menghela napas. Tatapannya kosong, seakan memaksa dirinya mengingat sesuatu yang tidak pernah jelas.
Lalu dengan suara yang lembut, ia menjawab, “Tidak tahu juga… Cuma saya berdoa sama Allah, supaya penyakit ini hilang.”Kalimat itu tidak panjang. Tidak puitis. Namun justru jadi kekuatan di dalam kepasrahan yang polos, dan keyakinan bahwa suatu hari ia bisa sembuh, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia lawan.
CEPAT SEMBUH RONAL









Komentar