Oleh : Kailismi Dina Safitri
“Kisah Dua Pria Palu yang Meninggalkan Sabu dan Menemukan Hidup Kembali”
Di Kota Palu, di antara riuh kendaraan dan langkah manusia yang bergerak cepat mengejar hidupnya masing-masing, ada dua pria yang pernah berjalan di lorong gelap bernama candu.
Lorong itu tidak memiliki pintu masuk yang jelas, namun memiliki banyak jalan buntu. Tidak ada yang sengaja masuk ke sana, namun banyak yang sulit keluar.
Dua pria ini Aba dan Af, pernah tersesat hingga hampir kehilangan diri mereka sendiri.
Namun keduanya, akhirnya, memutuskan untuk berbalik arah dan menemukan kembali hidup yang sempat mereka tinggalkan.
Aba memulai ceritanya dengan satu kalimat yang membuat siapa pun terdiam. “Kalau saya hitung uang yang saya pakai itu, bisa saya beli rumah, motor CRF, mobil,” Katanya dengan mata yang menyimpan penyesalan yang sukar disembunyikan.
Selama bertahun-tahun ia menjadi pengguna sabu, hidupnya berputar dalam lingkaran api yang ia nyalakan sendiri.
“Entah dari mana uang itu,” katanya. “Halal, haram, saya gas saja. Awalnya pakai karena stres. Dari satu kali, jadi dua, dan seterusnya sampai saya sudah tidak peduli apa pun selain sabu,” ujarnya.
Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan puluhan juta rupiah. Pernah juga sampai ratusan. Ia memakai sembilan sampai sepuluh kali dalam sehari, menyulutkan pipa yang memberi ketenangan sesaat, lalu menghapusnya lebih cepat dari bayangan.
Harga sabu tidak pernah menjadi persoalan baginya. Yang penting dapat. Yang penting hilang sebentar keresahan itu.
Aba tidak menutupi caranya mendapatkan uang. Ia mengaku pernah menggunakan gaya premanisme, menarik “pajak-pajak” kecil dari penjual, memanfaatkan rasa takut orang lain hanya demi beberapa gram barang haram itu.
“Saya malu. Demi Allah, saya menyesal sekali. Kalau bisa ulang hidup, saya tidak mau begitu lagi,” ucapnya.
Ia juga sambil bernyanyi lagu milik band ungu. “Andai Aku Bisa memutar waktu,….”..
Hidupnya saat itu seperti film Hayati di Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Gelap, kasar, dan penuh keputusan yang berujung penyesalan.
Namun sebagaimana film selalu menawarkan titik balik, hidup Akbar pun begitu. Ia memutuskan berhenti bukan karena tertangkap atau sakit. Tidak ada kejadian dramatis. Yang ada hanyalah letih.
Letih menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Letih melihat uang hilang tanpa arah. Letih hidup dalam kebohongan yang ia buat sendiri.
Yang mendorongnya keluar adalah pertemanan. “Awalnya saya pikir, kalau saya berhenti, tidak ada yang mau berteman dengan saya. Saya malu. Saya pikir, saya pasti dijauhi,” ceritanya.
Namun kekhawatiran itu tidak terbukti. Banyak anak-anak muda di sekelilingnya justru merangkul, menerima, bahkan mendorongnya untuk bangkit.
Saat itulah Aba sadar bahwa candu bukan hanya merusak pengguna, tetapi mengaburkan pandangan mereka terhadap dunia. Setelah berhenti, ia baru melihat bahwa masih ada orang yang peduli.
Bahwa dunia tidak segelap yang selama ini ia bayangkan.
“Saya tidak pernah direhab. Saya atur sendiri. Kalau sunyi, memang ada pikiran untuk kembali. Tapi saya lawan. Alhamdulillah, saya bisa.” Ia menambahkan, “Banyak yang rugi. Bukan hanya saya. Orang tua, teman, sahabat. Saya menyesal.”
Kini, Aba berjalan dengan kepala tegak. Ia tidak lagi dikejar bayang-bayang malam, tidak lagi mencari kantong uang untuk dibakar menjadi asap tipis.
Ia belajar menjadi utuh kembali—pelan, tapi pasti.
Af, Ketika Hidup Retak dan Cahaya Menyapa
Berbeda dengan Aba, Af masuk ke dunia sabu karena merasa hidup terus menghantamnya tanpa ampun. Masalah datang seperti gelombang besar yang tidak memberi waktu untuk bernafas.
Perselisihan dengan teman, tekanan batin, hingga pernikahan yang berakhir dengan perceraian, semuanya menumpuk, menyisakan ruang kosong di dalam dirinya.
“Saya stres. Masalah datang terus, sampai saya bingung bagaimana cara menghadapinya,” ujar Af dengan suara yang menurun pelan. “Di situ saya mulai pakai.”
Perceraian menjadi pukulan paling keras. Rumah yang tadinya ia tempatkan sebagai pelindung berubah menjadi tempat penuh kenangan pahit.
Ia mulai merasa bahwa dirinya tidak punya tempat untuk pulang. Sabu bagi Af bukan pelarian mewah, melainkan perahu kecil yang ia gunakan untuk menyeberangi hari demi hari agar tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Namun, seperti Aba, ia menemukan sesuatu yang memotong rantai kecanduannya. Suatu hari, secara tidak sengaja, ia menonton kajian Islam.
Video itu sederhana, pendek, dan tanpa visual dramatis, justru mengetuk pintu hatinya yang sudah lama tertutup.
“Saya menyesal sekali,” katanya lirih. “Saya lihat kajian itu, saya dengar, lalu saya pikir… hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Di situ saya pilih berhenti.”
Ia berhenti tidak dengan teriakan, tidak dengan perlawanan besar. Ia berhenti dengan kesadaran bahwa hidupnya belum benar-benar hilang. Bahwa ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sejak itu, ia tidak lagi menyentuh barang haram tersebut. Ia belajar berdamai dengan masa lalu, menata ulang serpihan hidup yang pernah ia biarkan hancur.
Kini Af masih berjuang. Namun ia tidak lagi berjalan di lorong gelap itu sendirian. Ia membawa cahaya kecil yang ia jaga kuat-kuat. Sebuah tekad untuk tidak kembali, untuk menjadi lebih baik, meski jalannya perlahan.
Aba dan Af saling kenal. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, alasan berbeda, dan perjalanan yang berbeda. Namun mereka bertemu di satu titik yang sama. Titik balik. Titik tempat seseorang menoleh ke belakang dan melihat betapa jauh ia tersesat. Titik tempat seseorang memutuskan untuk pulang, tidak peduli seberapa berat langkahnya.
Cerita mereka ibarat dua lilin yang pernah hampir padam, kini kembali menyala. Tidak terang, tidak juga sempurna. Namun cukup untuk menerangi jalan mereka sendiri. Dan sering kali, cahaya kecil itu lebih berarti daripada lampu paling terang sekalipun.
Bagi Palu, dan bagi siapa pun yang mendengar kisah mereka, dua pria ini adalah bukti nyata bahwa candu bukan akhir. Narkoba bukan titik mati. Ada hidup setelah gelap. Ada kesempatan setelah jatuh. Ada harapan setelah putus asa.
Pesan untuk Mereka yang Masih Berjuang Dari perjalanan Aba dan Af, ada pesan yang ingin mereka sampaikan kepada siapa saja yang masih berada di lubang yang dulu mereka tempati, pesan yang lahir dari luka, penyesalan, dan keberanian.
Berhenti bukan mustahil. Tidak ada yang langsung kuat. Semuanya dimulai dari satu langkah kecil.
Tenang itu ada. Tapi bukan dari sabu. Bukan dari candu. Tenang itu datang ketika kamu kembali mengenal dirimu sendiri.
Jangan takut mencari dukungan. Dunia tidak sekejam yang kamu bayangkan saat memakai. Selalu ada tangan yang terbuka.
Uang, hubungan, keluarga—semuanya bisa hancur karena narkoba. Namun masih bisa dibangun kembali jika kamu memilih berhenti.
Hukum tidak selalu datang sebagai peringatan. Kadang peringatan itu datang dari diri sendiri yang mulai lelah. Dengarkan itu.
Keduanya ingin orang-orang tahu bahwa penyesalan tidak dapat mengembalikan apa pun. Yang bisa mengubah hidup hanyalah tindakan hari ini.
Walau pelan, asal terus maju, seseorang bisa keluar dari jerat yang paling gelap sekalipun.
Aba dan Af telah membuktikannya. Mereka telah menang melawan candu. Dan siapa pun yang masih berjuang, layak menang juga.









Komentar